Setelah merayakan eforia kemenangan yang mengantarkan kesebelasan mereka ke babak 16 besar pesta olah raga di planet ini, orang-orang AS kini bertanya-tanya apakah mereka kini telah menerima sepakbola atau akankah cabang olahraga ini tetap menjadi sekadar impian untuk masa depan?

Beberapa orang melihat Piala Dunia yang sekarang sedang bergulir sebagai saat tepat untuk memutuskan masa depan sepakbola AS ketika penampilan memukau mereka di Afrika Selatan menjadi ukuran bagi kemampuan dan ungkapan dahaga akan permainan indah.

Namun, banyak pakar dan pengamat menilai sepakbola telah memiliki basis pendukung tetap di AS, jauh sebelum Landon Donovan mencetak gol bersejarah saat mengalahkan Aljazair 1-0.

Keberhasilan AS menduduki nomor 14 dalam sistem peringkat FIFA menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa bermain di puncaknya.

Martin Vasquez, pesepakbola Meksiko yang pernah bermain di liga utama AS pada 1996 dan kini melatih klub Chivas USA mengatakan kemenangan AS atas Aljazair sangat krusial.

“Kemenangan itu adalah hari yang bersejarah bagi AS. Liputan tentang perjuangan kesebelasan AS untuk sampai di sini (Afrika Selatan) sangat luar biasa,” kata Vasquez seperti dikutip AFP.

Rata-rata 11,1 juta orang AS menyaksikan putaran final Piala Dunia, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Spanyol, 68 persen lebih banyak dari tahun 2006.

Sementara, seperti rilis lembaga riset Nielsen, sekitar 17,1 juta orang menyaksikkan laga AS melawan Inggris.

Sekedar perbandingan, masih menurut Nielsen, penonton final turnamen basket NBA awal Juni ini mencapai 18,1 juta orang.

Para pakar mengatakan raksasa media olahraga AS, ESPN, tahun ini telah meningkatkan liputan sepak bolanya menjadi ‘top rated’ (liputan utama), dari sebelum ini yang hanya sekedar amatiran.

“Mereka memperlakukan Piala Dunia seperti Olimpiade,” kata Max Bergmann, seorang blogger sepakbola.

Rakyat AS yang terbiasa melihat tim dan atletnya menang besar, rupanya gemas melihat kemandegan bahkan tersisihnya kesebelasan AS di babak penyisihan Piala Dunia 2006.

Tetapi, menurut Bergmann dalam blog Association Football, sepakbola berkembang seiring “realitas demografi.”

Semakin banyak anak AS yang bermain bola dibandingkan bermain cabang olahraga lain, termasuk tiga cabang olahraga utama Negeri Paman Sam, yaitu bola basket, “american football,” dan “baseball.”

Perkembangan itu didukung oleh hadirnya liga remaja yang dimulai sejak 1980an.

“Generasi tua yang bertumbuh tanpa interaksi dengan sepakbola sedang tersisih dari panggung utama dan sekarang giliran generasi yang lebih muda,” urai Bergmann.

Tetapi untuk menciptakan bangsa yang gila bola, sambung Bergman, bukan hal yang mudah, sebaliknya itu adalah satu proses yang panjang.

Sepakbola mulai dikenal di AS pada 1970an ketika otoritas sepakbola negara itu menarik para bintang dunia seperti Pele dan Johan Cruyff ke Liga Sepakbola Amerika Utara (North American Soccer League).

Dan seperti lesakan Donovan ke gawang Aljazair, tembakan Paul Caligiuri pada November 1989 yang membuat AS memenangi laga melawan Trinidad & Tobago, menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya dalam 40 tahun telah mengantarkan mereka ke pentas Piala Dunia.

Empat tahun kemudian AS mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Dan Piala Dunia 1994 itu terbukti sangat mempengaruhi perkembangan sepakbola AS. Total 3,5 juta tiket terjual pada turnamen itu, rekor yang belum terpecahkan hingga kini.

Perhelatan itu pun kemudian mendorong terbentuknya liga utama AS yang dikenal dengan Major League Soccer (MLS) pada 1996.

Semula diikuti 10 tim pada awal terbentuknya liga, kemudian sekarang bertambah menjadi 16 tim. Pada 2012, MLS akan menambah empat tim lagi.

Selain itu, pemain bintang seperti Donovan, David Beckham, dan bintang Prancis yang kabarnya akan hijrah ke AS musim depan, Thiery Henry, turut mengangkat kualitas dan nama MLS di mata dunia.

Pelatih Universtas Maryland, Sacho Cirovsky, menilai ada perkembangan bakat yang stabil di antara kalangan muda AS selama satu dekade yang lalu. Dan semua itu berkat pendekatan yang sabar dan komprehensif dari Federasi Sepak Bola AS.

“Itu membayar semua kerja keras di tingkat akar rumput, dari sepakbola remaja, tingkat universitas, sampai tingkat profesional. Itu semua terbayar lunas,” cetus Cirovsky.

Cirovsky agak hati-hati menilai pencapaian AS sehingga menyebut prestasi AS maju ke babak 16 Besar sebagai sekadar tanda positif.

Sebaliknya, mantan Presiden Bill Clinton yang duduk di samping Presiden FIFA Sepp Blater saat laga AS melawan Aljazair, malah tampak optimistis.

“Saya kira kita sekarang serius dalam soal itu (menangani sepakbola),” kata Clinton seperti dikutip Sport Illustrated.

Clinton dikabarkan sangat terkesan oleh skuad asuhan Bob Bradley itu, sampai rela mengubah jadwalnya agar bisa berada di Rustenberg, Sabtu (26/6) guna menyaksikan laga perdelapan final AS melawan Ghana nanti.

Tapi, tidak semua orang Amerika mempedulikan Piala Dunia dan tim nasional AS.

“Sekeras apapun Anda berusaha menjualnya, seberapa pun artis yang Anda libatkan untuknya, dan berapa banyak bar yang buka lebih awal, pokoknya kami tidak ingin Piala Dunia, kami tidak suka Piala Dunia, kami tidak suka sepakbola, dan kami tidak ingin apa-apa dari itu semua,” tegas penyiar radio Glen Back yang terkenal konservatif, sebelum Piala Dunia dimulai.

Tetapi kini, komentar Glen itu tampaknya hanya mewakili kalangan minoritas, karena faktanya semakin banyak saja warga AS yang menyukai sepakbola.

“Sejak 1994 orang selalu mengharapkan Piala Dunia menjadi titik balik bagi AS, mari kita berharap itu benar terjadi sekarang,” doa Ted Rosenbaum, seorang penggila bola AS.

sumber :www.antaranews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s