Hati-hati dengan virus HIP (Hasrat Ingin Pacaran)

Ada sebuah virus berbahaya dan mematikan yang telah lama hidup di dunia ini. Namanya HIP. Mungkin ini adalah hasil rekombinasi dari virus berbahaya lainnya yang telah beradaptasi dengan sukses di semua benua, termasuk di benua Asia. Indonesia tidak luput pula dari beredarnya virus gila ini.

Mungkin Anda penasaran dengan virus baru ini. Virus ini sebenarnya virus lama. Cuman, kini makin merebak akibat medium yang subur yang mendukung pertumbuhannya. Hendaknya Anda jangan salah menilai virus ini. Virus ini dapat menyerang siapapun, kecuali anak-anak balita dan orang jompo yang pikun. ūüėÄ

Yup, virus HIP atau Hasrat Ingin Pacaran adalah virus jenis VMJ atau Virus Merah Jambu. Tahu sendirilah… Virus ini menyerang membabibuta (sporadis) sesuai dengan arah anak panah setan.

Entah dari mana asal muasal virus ini. Nampaknya, virus ini tidak terlepas dari stimulus rekayasa iblis yang telah berhasil merekayasa genetik bentuk kejahatan manusia dengan tipe lunak (soft crime). Karena, orang yang terjangkit ini tidak paham kalau dirinya sedang melakukan sebuah kejahatan. Apa kejahatan itu? Kejahatan itu adalah kejahatan terhadap diri dan orang lain.

Pertama, kejahatan lunak pada dirinya sendiri. Secara tak sadar sebenarnya orang yang terkena virus HIP ini telah menjerumuskan dirinya ke lembah maksiat. Bagaimana tidak? Hal-hal yang akan dilakukan orang yang terkena HIP pastinya bertentangan dengan naluri, seperti keinginan untuk bermesraan dengan lawan jenis yang bukan muhrim dengan berbagai media, seperti HP dan internet. Selain itu, kegiatan yang dilakukan cenderung berarah pada kemaksiatan-kemaksiatan lainnya, seperti kencan, berboncengan, bersentuhan, atau parahnya lagi berciuman hingga melakukan hubungan yang tidak senonoh.

Kedua, kejahatan lunak kepada orang lain. Orang lain yang dimaksud di sini bisa cukup banyak antara lain orang tua, saudara, teman, guru, tukang kebun, satpam, dan masih banyak lagi. Mereka yang tersebut itu bisa menjadi pendukung maupun korban dari penderita HIP. Orang tua baik sebagai pendukung atau korban penipuan penderita secara tidak langsung dirugikan dalam segi duniawi dan ukhrowi. Materi yang diberikan orang tua terguna sia-sia untuk kegiatan maksiat tersebut.

Saudara, teman, guru, dan orang lainnya pun demikian. Mereka dapat menjadi pendukung maupun korban. Jika mereka mendukung, artinya mereka telah ikut tersesat dan terjerembab dalam ajang maksiat ini. Jika mereka sebagai korban, ini artinya mereka menjadi pihak yang dirugikan.

So, pacaran adalah hal yang berefek negatif pada diri sendiri dan orang lain. Apalagi penderita dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain baik disengaja atau tidak.

Seperti yang telah umum terjadi di dunia ini. Kaum iblis berwujud manusia telah lama menghembuskan momen penting bagi para penderita HIP. Mereka mengangkat sejarah Valentine sebagai figur yang tepat untuk mengusung agenda penyebaran virus pacaran ini.

Tidak percaya..? Di awal bulan Februari mulai bermunculan produk-produk coklat. Bak jamur di musim hujan, di supermarket dan toko roti khususnya, telah mempersiapkan beraneka ragam jenis coklat dari bentuk, rasa, dan kualitasnya. Harganya pun bervariasi. Bahkan, orang miskin sekalipun dapat menjangkaunya sehingga dapat kesempatan ikut-ikutan agenda setan ini. Lantas coklat-coklat itu akan digunakan oleh para penderita HIP untuk melancarkan agenda besarnya pada hari kematian Valentine pada tanggal 14 Februari. Mereka akan memberikan secara cuma-cuma coklat yang telah mereka beli kepada lawan jenis yang dicintai. Naudzubillaah. Inilah permainan yang telah berhasil menggejala di muka bumi. Parahnya lagi, generasi muda pada umumnya telah terkena wabah virus ini hingga sulit disembuhkan dari gejala-gejala yang mereka alami. Sebab, virus ini selalu di-update setiap tahun sekali di bulan Februari. Untuk itu, tidak heran jika penderita virus HIP semakin meningkat kian terlewatinya bulan Februari.

Jika Anda bukan penderita virus HIP maka berhati-hatilah. Karena, virus ini akan meledak di bulan Februari ini. Siapa yang tertular maka ia akan menjadi pengikut setan cinta. :V

Jika Anda pernah dan akan terjangkit lagi virus ini maka segeralah berobat kepada Islam. Kembalilah kepada kesucian dan keselamatan.

Jika Anda penderita HIP dan ingin kembali sembuh seperti sedia kala maka lupakanlah HIP, ingatlah masa depan yang lebih cerah. Masa depanmu lebih berarti, terlebih masa depan di negeri akhirat nanti. Anda akan pulang ke negeri itu dengan selamat dengan ber-Islam.

Jika Anda penderita HIP tapi tidak ingin sembuh maka merenunglah atas apa yang terjadi. Jika Anda tidak setuju, lakukanlah sekehendakmu. Hanya Allah yang akan menyembuhkanmu melalui perantaraan-Nya. Semoga Anda selamat.

Lalu, bagaimana supaya tidak tertular virus ganas ini? Sepertinya, hanya ada satu cara, yakni menanamkan vaksin pada diri kita dengan selalu berdzikir kepada Allah dan menjalankan nilai-nilai Islam. Nah, dengan demikian kita akan selamat. Se..la..mat..!

Iklan

Museum Belanda Pamerkan Karya Oscar Motuloh

 

Tropenmuseum, sebuah museum budaya di Amsterdam, Belanda, akan menggelar pameran foto hasil karya fotografer kawakan Indonesia, Oscar Motuloh, yang menggambarkan kehampaan yang tercipta setelah terjadi bencana alam. (oscar motulloh)

Jakarta (ANTARA News) – Tropenmuseum, sebuah museum budaya di Amsterdam, Belanda, akan menggelar pameran foto hasil karya fotografer kawakan Indonesia, Oscar Motuloh, yang menggambarkan kehampaan yang tercipta setelah terjadi bencana alam.

Pameran yang bertema ‘Soulscape Road’ dan digelar mulai 18 Maret sampai 24 Juli 2011 itu akan menampilkan 14 foto hitam putih karya Oscar, yang juga wartawan dan kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA itu.

Menurut Oscar melalui pameran itu ia ingin memberikan kesempatan kepada kepada pengunjung Tropenmuseum untuk berefleksi tentang bencana dan tentang dunia yang sepi karena ditinggalkan.

“Sambil membuat foto-foto itu, saya menyaksikan kejamnya alam. Gambar-gambar itu memberikan kesempatan kepada pengunjung Tropenmuseum untuk merefleksikan bencana-bencana alam yang universal,” kata Oscar.

Pameran foto itu rencananya akan digelar sederhana di ruangan Parkzaal, tempat foto-foto yang dicetak dalam ukuran besar akan menjadi satu-satunya pusat perhatian.

Tropenmuseum adalah sebuah museum budaya yang mempresentasikan interaksi antara kebudayaan. Museum yang dibangun pada 1684 itu tidak saja menampilkan sejarah budaya etnografis tetapi juga berbagai seni kontemporer.
(Ber/B010)

Sumber : http://www.antaranews.com

Bapeten Teliti Jejak “UFO Berbah”

Sebuah pola terbentuk sangat rapi menyerupai jejak UFO di tengah sawah di Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Senin (24/1). Menurut keterangan seorang warga setempat pada Sabtu (22/1) malam, terdenger suara gemuruh seperti Helikopter mendarat selama sekitar 30 menit, di tempat ditemukannya pola tersebut. (FOTO ANTARA/Regina Safri )

Sleman (ANTARA News) – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Selasa siang menerjunkan tim di lokasi penemuan “crop circle” di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman untuk melakukan penelitian.

Tim yang terdiri dari dua orang peneliti dan beberapa anggota tim teknis tersebut langsung mengambil gambar dan pengamatan langsung di lokasi.

“Kami hanya melakukan pengamatan awal saja, namun untuk keterangan lainnya kami tidak bisa menyampaikan, nanti ada petugas sendiri yang akan menyampaikan,” kata salah satu anggota tim Bapaten, Solihin.

Penelitian yang dilakukan tim Bapeten ini cukup singkat dan hanya sekitar 30 menit saja, dan kemudian mereka meninggalkan lokasi.

Penelitian tersebut berupa pengecekan dahan-dahan padi yang roboh, pengambilan gambar dan sample.

Selain itu, aliran sutet yang berada diatasnya juga nampak dilakukan pengecekan. “Hasilnya nanti saja. Tadi kita cuman ambil gambar saja. Nanti kalau sudah datang Lapan baru kita sampaikan kata salah satu peneliti Bapeten I Putu Elba Nugraha ST.

Sementara itu lokasi penemuan “crop circle” sampai dengan siang ini masih terus dipadati ribuan warga masyarakat.

Kondisi ini dimanfaatkan warga sekitar dan para pedagang asongan untuk menjual dagangan keperluan seperti air mineral, topi, makanan ringan serta jasa parkir.

Menurut koordinator parkir Bambang, dalam satu hari ini pendapatan dari parkir para pengunjung mencapai Rp3,5 juta.
(*)

Sumber : http://www.antaranews.com

Membaca “Crop Circle” dari Udara

Yogyakarta (ANTARA News) – Senin pukul 6.00 WIB, saya telah meluncur dari rumah menuju Dusun Jogo Tirto, Berbah, di mana crop circle yang mengebohkan Indonesia sejak hari Minggu ditemukan.

Tempat itu sebenarnya dekat dari rumah saya, tapi karena harus sana sini menanyai penduduk, waktu yang saya perlukan untuk mencapainya molor menjadi 20 menit.

Sepagi itu, tempat tersebut sudah dipenuhi pengunjung. Di depan jalan masuk, beberapa pemuda berjejer mengatur kendaraan pengunjung, sembari memberikan tiket parkir, persis tukang parkir saja.  Setiap sepeda motor dipungut Rp2000.

Saya segera memarkir motor untuk bergabung dengan pengunjung lain yang semuanya menampakkan wajah penasaran. Meski begitu, tempat sekitar crop circle itu berada, tetap lapang dan tak ada yang berdesakan.

Di pojok jalan setapak menuju sawah di mana tepat crop circle berada, pedagang asongan menjajakan kue basah sederhana, sementara beberapa pemuda bersemangat menjual foto hasil jepretan Mas Dalis, putra pemilik sawah di mana crop circle tercipta.

Tak bisa disangkal, fenomena unik di Berbah ini telah memutar roda ekonomi masyarakat, kendati untuk sesaat.

Saya jelas ke sana tidak untuk melihat-lihat saja.  Tujuan utama saya adalah bergabung dengan tim Teknik Geodesi UGM dan para pehobi aeromodelling yang akan memotret crop circle dari udara.

Sekitar 8.00 WIB, lengkap sudah tim berkumpul. Operator aeromodelling adalah Mas Kopral, dibantu Mas Widi yang alumnus Teknik Geodesi UGM.  Namun, pakar dan aktivis pemotretan udara dari Teknik Geodesi UGM, Dr. Catur Aries Rokhmana tak tampak di lapangan.

Jam 8 lebih sedikit, pesawat meluncur dikendalikan Mas Kopral lewat remote control. Dia sepertinya sangat piawai mengendalikan alat itu dan sepertinya yakin tak akan menghadapi kendala berarti.

Ceritanya gambar sudah diambil, namun karena harus mengikuti rapat kurikulum, saya mendahului tim dan menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.

Lalu, ketika bertemu dengan Dr. Catur di kampus Teknik Geodesi UGM, berita cukup menarik –ah mungkin juga aneh– tersaji ke mata dan telinga saya.

Katanya, hasil pemotretan menunjukkan bahwa kamera gagal mengambil gambar tepat ketika berada di atas crop circle.

Saya lalu tanyakan kepada tim di lapangan mengapa hal itu bisa terjadi. Tak seorang pun mampu menjawab dan menjelaskan keganjilan ini.

Yang pasti, jika kamera rusak, maka tidak ada gambar yang bisa diambil. Faktanya, semua pengambilan gambar berjalan lancar, tapi itu tak berlaku ketika kamera tepat berada di atas crop circle.  Aneh sekali, kamera berhenti beroperasi begitu tepat berada di atas crop circle.

Sampai tulisan ini dibuat, saya dan semua rekan tidak bisa memastikan apa penyebabnya.

Sepertinya perlu penelitian lebih serius mengenai medan magnet dan kondisi gelombang yang ada di sana ketika pemotretan terjadi, untuk menjawab keganjilan itu.

Tapi karena urusan kami adalah hanya untuk mengetahui bentuk dan dimensi geometris crop circle, maka segala gangguan bersifat elektromagnetis terhadap proses pemotretan kami abaikan.  Itu karena dimensi itu tidak berada dalam perhatian kami dan tidak termasuk kegiatan pemotretan.

Tim tidak berani berandai-andai atau menerka sebelum ada bukti yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Lagi pula kapasitas kami tidak di situ.

Foto-foto yang dihasilkan dari pemotretan udara itu –tentu saja bukan yang tepat di atas crop circle karena kami memang tak mendapatkannya– kemudian kami olah secara fotogrametris sehingga menghasilkan visualisasi dengan geometri cukup akurat.

Bentuk circle crop di Berbah ini memang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya oleh para pemerhati soal ini.

Karena akurat secara geometris, hasil gambar bisa digunakan untuk mengukur dimensi sebenarnya. Dan, karena pengolahannya melibatkan referensi bumi, maka koordinatnya pun bisa diketahui.

Akibatnya, hasil foto udara ini bisa ditupangsusunkan (overlay) dengan citra satelit yang tersedia gratis pada Google Earth atau Google Maps.

Singkatnya, foto udara ini menjadi semacam peta yang dengannya bisa diketahui posisi dan dimensi crop circle Berbah ini.

Berdasarkan pengukuran foto udara itu, crop circle Berbah memiliki diameter 54 meter. Di sisi barat dan timurnya, terdapat dua lingkaran yang keduanya berjarak 67 meter.

Kami berusaha mendapatkan penjelasan mengenai rumor dan misteri di seputar pembuatan crop circle dari Dr. Catur Aries Rokhmana.  Namuan Ketua Laboratorium Fotogrametri dan Penginderaan Jauh Teknik Geodesi UGM ini enggan mengomentarinya.

Katanya, ketertarikan dan kapasitas tim Teknik Geodesi UGM adalah pada upaya menentukan bentuk dan dimensi crop circle secara akurat.  Soal misteri dan rumor bukan urusan tim.

Dia juga menjelaskan, bentuk crop circle bisa dipetakan secara akurat dengan teknologi pemotretan udara yang dikembangkan Teknik Geodesi UGM.

Saya sependapat dengannya bahwa metode ini memang sangat efektif, karena bentuk dan dimensi bentuk-bentuk di permukaan bumi bisa diketahui dengan cepat dan akurat.

Dr. Rokhmana menyatakan, pemotretan udara ini bisa diaplikasikan dalam ragam dimensi, tidak sekadar urusan crop circle.  Dia mereferensikan http://www.potretudara.com untuk mengetahui apa-apa saja yang dikembangkan laboratoriumnya.

Saya sendiri menilai, siapapun yang membuat crop circle Berbah, maka pastilah mereka yang memiliki cita rasa seni tinggi dan memahami benar geometri dan matematika yang jelas bukan hal yang sederhana.

Saya sepakat crop circle bisa dibuat manusia dan ini memang bisa dijelaskan dengan amat logis.

Tapi, faktanya pada sebagian kecil crop circle logika tak bisa menjelaskannya. Saat bersamaan, selalu ada pihak yang menyukai misteri, seperti pada fenomena Segitiga Bermuda.

Kendati berulangkali dijelaskan secara ilmiah, selalu saja ada penjelasan lain yang mengarahkan fenomena itu ke misteri.  Ini juga berlaku pada crop circle Berbah.

Untuk itu, kita masih memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai crop circle Berbah yang menghebohkan ini. (*)

Sumber : http://www.antaranews.com

PENS-ITS Juarai Kompetisi Roket

Tim dari PENS-ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya meraih juara pertama dan menyingkirkan 39 tim lainnya dalam Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 yang digelar di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

PENS-ITS lolos sebagai yang terbaik dalam penilaian peluncuran roket yang digelar Minggu (27/6) setelah sebelumnya melalui beberapa tahapan seleksi, kata Kabag Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Elly Kuntjahyowati di Jakarta, Selasa.

Meraih juara dua dalam kompetisi yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional dan LAPAN itu adalah tim dari Universitas Pelita Harapan Jakarta.

Sementara tim Universitas Komputer Indonesia Bandung meraih juara ketiga, namun Elly Kuntjahyowati tidak merinci perolehan poin dari masing-masing peraih juara tersebut.

Tahapan dalam kompetisi meliputi dari seleksi proposal, workshop pengenalan teknologi peroketan, peluncuran dan uji terbang muatan roket, kemudian uji fungsional, dan terakhir penilaian peluncuran roket.

Berikut tim-tim yang menjuarai Korindo 2010 menurut keterangan yang dilansir oleh LAPAN melalui Kabag Humas lembaga itu Elly Kuntjahyowati:

* Juara I: PENS-ITS Surabaya
* Juara II: Universitas Pelita Harapan
* Juara III: Universitas Komputer Indonesia Bandung

* Juara Harapan I: Poltek TEDC Bandung
* Juara Harapan II: Universitas Negeri Semarang
* Juara Harapan III: Universitas Tarumanegara

* Juara Faforit: Universitas Indonesia
* Juara Kreativitas Terbaik: Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
* Juara Desain Terbaik: STMIK Potensi Utama, Medan

sumber : http://www.antaranews.com

Pria ‘Berkepala Kuda’ Hebohkan Google Street View

Kamera Google Street View tidak sengaja menangkap gambar menggelikan, yakni seorang pria yang menggunakan topeng menyerupai kepala kuda. Kehadirannya di layanan milik Google tersebut menghebohkan para pengguna internet yang penasaran ingin mengetahuinya.

Dalam gambar yang ditampilkan layanan Street View tersebut, sosok misterius yang kemudian dijuluki ‘pria berkepala kuda’ itu kedapatan tengah mengenakan topeng yang melekat di wajahnya dan berdiri di tepi jalan. Gambar tersebut diambil saat mobil Google yang membawa kamera Street View tengah memotret kawasan Aberdeen street dekat Riverside Terrace, Inggris.

Mengenakan baju hangat berwarna ungu dan celana jeans hitam, sang pria berkepala kuda dapat dengan mudah ditemukan oleh para pengguna Google  Street View, terutama mereka yang tinggal di Inggris.

Sayangnya, seperti disitat detikINET dari Telegraph, Jumat (25/6/2010), pria misterius tersebut nampak sangat jauh dari kamera sehingga sulit melihat wajahnya dengan jelas. Saat ini orang-orang yang penasaran tengah berupaya mengungkap identitas pria berkepala kuda itu.

Seorang pria bernama Russell Moffatt adalah orang pertama yang menemukan gambar tersebut. Saat itu dia tengah mencari lokasi ahli kacamata di wilayah sekitar rumahnya melalui Google Street View.

Karena menganggap gambar tersebut menarik dan lucu, Moffatt kemudian memposting pengumuman di Twitter untuk mengajak teman-temannya mencari tahu sosok dibalik topeng kuda tersebut.

“Saya sangat penasaran untuk mengetahui sosok pria itu. Dia sangat menggelikan, menghibur setiap orang yang melihat fotonya dan dia juga misterius,” ujarnya

sumber : http://www.detikinet.com

Lapan Targetkan Mampu Orbitkan Satelit Sendiri

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan pada 2010 sudah mampu mengorbitkan satelit sendiri, kata Kepala Pusat Teknologi Terapan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Rika Andiarti di sela penyelenggaraan Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta, Sabtu.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Saat ini mungkin baru akan meluncurkan satelit “Nano” dengan berat di bawah 10 kilogram,” katanya.

Menurut Rika Andiarti , satelit “nano” ini dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembabab udara dan -data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit.

“Ke depan kami targetkan mampu mengorbitkan satelit berukuran besar seperti yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan lainnya,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai persiapan uji coba peluncuran roket pengorbit satelit.

“Lima tahun ke depan kami harus sudah mampu memproduksi roket peluncur satelit berukuran besar, sehingga Indonesia tidak lagi meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit,” kata Rika .

Jamin keamanan

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Djamasri menambahkan, dengan mengorbitkan sendiri atelit maka keamanan negara akan lebih terjamin.

“Saat ini Indonesia masih meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit, dan ini sangat rawan karena muatan roket dan satelit bisa disusupi kepentingan negara pengorbit satelit,” katanya.

Profesor Djamasri mengatakan, teknologi kedirgantaraan khusunya tentang roket sangat bermanfaat dan bisa untuk berbagai kepentingan seperti mitgasi bencana. Teknologi kedirgantaraan juga sangat mendukung untuk kepentingan pertahanan Indonesia .

“Jika dari Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul kita mampu membuat roket dengan daya luncur antara 3.000 hingga 5.000 kilometer maka pertahanan akan semakin kokoh dan negara lain tidak akan seenaknya,” katanya.(*)

sumber : http://www.antaranews.com

Amerika Serikat Kini Suka Sepakbola Ya?

Setelah merayakan eforia kemenangan yang mengantarkan kesebelasan mereka ke babak 16 besar pesta olah raga di planet ini, orang-orang AS kini bertanya-tanya apakah mereka kini telah menerima sepakbola atau akankah cabang olahraga ini tetap menjadi sekadar impian untuk masa depan?

Beberapa orang melihat Piala Dunia yang sekarang sedang bergulir sebagai saat tepat untuk memutuskan masa depan sepakbola AS ketika penampilan memukau mereka di Afrika Selatan menjadi ukuran bagi kemampuan dan ungkapan dahaga akan permainan indah.

Namun, banyak pakar dan pengamat menilai sepakbola telah memiliki basis pendukung tetap di AS, jauh sebelum Landon Donovan mencetak gol bersejarah saat mengalahkan Aljazair 1-0.

Keberhasilan AS menduduki nomor 14 dalam sistem peringkat FIFA menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa bermain di puncaknya.

Martin Vasquez, pesepakbola Meksiko yang pernah bermain di liga utama AS pada 1996 dan kini melatih klub Chivas USA mengatakan kemenangan AS atas Aljazair sangat krusial.

“Kemenangan itu adalah hari yang bersejarah bagi AS. Liputan tentang perjuangan kesebelasan AS untuk sampai di sini (Afrika Selatan) sangat luar biasa,” kata Vasquez seperti dikutip AFP.

Rata-rata 11,1 juta orang AS menyaksikan putaran final Piala Dunia, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Spanyol, 68 persen lebih banyak dari tahun 2006.

Sementara, seperti rilis lembaga riset Nielsen, sekitar 17,1 juta orang menyaksikkan laga AS melawan Inggris.

Sekedar perbandingan, masih menurut Nielsen, penonton final turnamen basket NBA awal Juni ini mencapai 18,1 juta orang.

Para pakar mengatakan raksasa media olahraga AS, ESPN, tahun ini telah meningkatkan liputan sepak bolanya menjadi ‘top rated’ (liputan utama), dari sebelum ini yang hanya sekedar amatiran.

“Mereka memperlakukan Piala Dunia seperti Olimpiade,” kata Max Bergmann, seorang blogger sepakbola.

Rakyat AS yang terbiasa melihat tim dan atletnya menang besar, rupanya gemas melihat kemandegan bahkan tersisihnya kesebelasan AS di babak penyisihan Piala Dunia 2006.

Tetapi, menurut Bergmann dalam blog Association Football, sepakbola berkembang seiring “realitas demografi.”

Semakin banyak anak AS yang bermain bola dibandingkan bermain cabang olahraga lain, termasuk tiga cabang olahraga utama Negeri Paman Sam, yaitu bola basket, “american football,” dan “baseball.”

Perkembangan itu didukung oleh hadirnya liga remaja yang dimulai sejak 1980an.

“Generasi tua yang bertumbuh tanpa interaksi dengan sepakbola sedang tersisih dari panggung utama dan sekarang giliran generasi yang lebih muda,” urai Bergmann.

Tetapi untuk menciptakan bangsa yang gila bola, sambung Bergman, bukan hal yang mudah, sebaliknya itu adalah satu proses yang panjang.

Sepakbola mulai dikenal di AS pada 1970an ketika otoritas sepakbola negara itu menarik para bintang dunia seperti Pele dan Johan Cruyff ke Liga Sepakbola Amerika Utara (North American Soccer League).

Dan seperti lesakan Donovan ke gawang Aljazair, tembakan Paul Caligiuri pada November 1989 yang membuat AS memenangi laga melawan Trinidad & Tobago, menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya dalam 40 tahun telah mengantarkan mereka ke pentas Piala Dunia.

Empat tahun kemudian AS mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Dan Piala Dunia 1994 itu terbukti sangat mempengaruhi perkembangan sepakbola AS. Total 3,5 juta tiket terjual pada turnamen itu, rekor yang belum terpecahkan hingga kini.

Perhelatan itu pun kemudian mendorong terbentuknya liga utama AS yang dikenal dengan Major League Soccer (MLS) pada 1996.

Semula diikuti 10 tim pada awal terbentuknya liga, kemudian sekarang bertambah menjadi 16 tim. Pada 2012, MLS akan menambah empat tim lagi.

Selain itu, pemain bintang seperti Donovan, David Beckham, dan bintang Prancis yang kabarnya akan hijrah ke AS musim depan, Thiery Henry, turut mengangkat kualitas dan nama MLS di mata dunia.

Pelatih Universtas Maryland, Sacho Cirovsky, menilai ada perkembangan bakat yang stabil di antara kalangan muda AS selama satu dekade yang lalu. Dan semua itu berkat pendekatan yang sabar dan komprehensif dari Federasi Sepak Bola AS.

“Itu membayar semua kerja keras di tingkat akar rumput, dari sepakbola remaja, tingkat universitas, sampai tingkat profesional. Itu semua terbayar lunas,” cetus Cirovsky.

Cirovsky agak hati-hati menilai pencapaian AS sehingga menyebut prestasi AS maju ke babak 16 Besar sebagai sekadar tanda positif.

Sebaliknya, mantan Presiden Bill Clinton yang duduk di samping Presiden FIFA Sepp Blater saat laga AS melawan Aljazair, malah tampak optimistis.

“Saya kira kita sekarang serius dalam soal itu (menangani sepakbola),” kata Clinton seperti dikutip Sport Illustrated.

Clinton dikabarkan sangat terkesan oleh skuad asuhan Bob Bradley itu, sampai rela mengubah jadwalnya agar bisa berada di Rustenberg, Sabtu (26/6) guna menyaksikan laga perdelapan final AS melawan Ghana nanti.

Tapi, tidak semua orang Amerika mempedulikan Piala Dunia dan tim nasional AS.

“Sekeras apapun Anda berusaha menjualnya, seberapa pun artis yang Anda libatkan untuknya, dan berapa banyak bar yang buka lebih awal, pokoknya kami tidak ingin Piala Dunia, kami tidak suka Piala Dunia, kami tidak suka sepakbola, dan kami tidak ingin apa-apa dari itu semua,” tegas penyiar radio Glen Back yang terkenal konservatif, sebelum Piala Dunia dimulai.

Tetapi kini, komentar Glen itu tampaknya hanya mewakili kalangan minoritas, karena faktanya semakin banyak saja warga AS yang menyukai sepakbola.

“Sejak 1994 orang selalu mengharapkan Piala Dunia menjadi titik balik bagi AS, mari kita berharap itu benar terjadi sekarang,” doa Ted Rosenbaum, seorang penggila bola AS.

sumber :www.antaranews.com

Blackberry Cetak Rekor

Research In Motion, Kanada, pembuat ponsel pintar populer Blackberry, Jumat WIB, mengatakan telah mencetak rekor penjualan tertinggi ponsel pintar pada kuartal pertama tahun fiskal ini.

Perusahaan yang bermarkas di Waterloo, Ontario, ini mengungkapkan telah mengapalkan 11,2 juta perangkat pada kuartal yang berakhir pada 29 Mei, atau naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang saat itu mencetak 10,5 juta unit.

RIM membukukan laba bersih kuartalan sebesar 769 juta dolar, naik 19,5 persen dibandingkan dengan kuartal sama tahun lalu, sementara pendapatan tumbuh 24 persen menjadi 4,24 milyar dolar AS.

Hasil ini di bawah prediksi pendapatan RIM, sedangkan saham perusahaan tersebut diperdagangan 4,61 persen lebih rendah dari nilai sebelumnya pada 55,88 dolar AS pada jam-jam pasca perdagangan elektronik.

Pembuat “handset” asal Kanada ini mengatakan akan menambahkan 4,9 juta pelanggan Blackberry pada kuartal tersebut, kira-kira sebesar jumlah pada kuartal sebelumnya, untuk mencapai total 46 juta pelanggan.

“Kami terus fokus pada pengembangan bisnis kami secara global,” kata Co-CEO RIM, Jim Balsillie dalam satu pernyataan tertulisnya.

“Kami percaya bahwa berbagai produk menarik Blackberry terbaru yang diluncurkan dalam beberapa bulan ke depan akan menciptakan peluang yang signifikan dalam mempercepat pertumbuhan RIM.”

Awal bulan ini, Wall Street Journal melaporkan bahwa RIM sedang mengembangkan ponsel pintar layar sentuh dengan keyboard “slide-out” dan komputer tablet untuk pelayanan pendukung layar lebar bagi BlackBerry.

Koran itu mengatakan langkah tersebut dirancang untuk mencegah pasar BlackBerry diambil oleh iPhone dan iPad kreasi Apple serta perangkat-perangkat mobile yang menggunakan sistem operasi Android milik Google.

Ponsel pintar layar sentuh produk RIM, Blackberry Storm, gagal menandingi popularitas iPhone yang versi terbarunya iPhone 4 diborong toko-toko di seluruh dunia.

CEO Google Eric Schmidt mengatakan, lebih dari 160 ribu perangkat bersistem operasi Android dijual ke seluruh dunia setiap hari.

sumber : http://www.antaranews.com

Umur Gletser Papua Tinggal 20 Tahun

Prof Lonnie G Thompson, pimpinan kelompok peneliti inti es Papua, memperkirakan dalam waktu 20 hingga 30 tahun ke depan gletser di Gunung Cartensz, dekat Puncak Jaya, Papua, akan hilang sebagai akibat dari pemanasan global.

“Hampir pasti di sini dan di tempat-tempat tropis yang lain, kira-kira dalam 30 tahun mendatang gletser akan hilang akibat perubahan iklim,” kata Lonnie Thompson yang juga guru besar pada Ohio State University kepada ANTARA di Timika, Sabtu.

Thompson memimpin proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 yang dilakukan atas kerja sama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar Research Center (BPRC) The Ohio State University, beranggotakan sejumlah peneliti dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan Indonesia.

Kelompok peneliti pimpinan Lonnie Thompson selama 13 hari tinggal di tiga titik gletser yang masih ada di Papua yaitu gletser Cartensz, E.Nortwall Firs dan W.Northwall Firs yang hampir habis atau hilang.

Menurut pengakuan Lonnie Thompson, selama 13 hari berada di kawasan gletser Papua, gletser setempat mengalami penurunan sekitar 30 centimeter. Ia memperkirakan, setiap tahun gletser Papua hilang beberapa meter.

Lonnie Thompson mengatakan, proses pencairan es pada gletser Papua sangat cepat akibat dari faktor iklim, di mana setiap hari di kawasan itu selalu turun hujan.

“Benar kalau gletser di sini kemungkinan akan cepat habis karena setiap hari turun hujan. Hujan merupakan salah satu faktor cuaca yang paling cepat menghabiskan gletser,” katanya.

Selama berada di kawasan gletser Papua, Lonnie dan rekan-rekannya mengambil sampel 88 meter Ice Core dengan mengebor enam inti es sampai dasar es, lalu dipotong-potong menjadi satu meter dan dimasukan ke dalam freezer untuk diteliti lebih lanjut di Ohio State University Amerika Serikat.

Hasil penelitian ini diperkirakan akan selesai akhir tahun 2010 dan akan dipublikasikan sekitar bulan Juni 2011.

“Misi pengambilan sampel es ini untuk mendapatkan informasi iklim yang masih ada di gletser Papua sebelum informasi iklim itu akan hilang semua,” jelas Lonnie Thompson.

Ia mengatakan, suhu rata-rata di kawasan gletser Papua pada siang maupun malam hari berkisar pada 5 derajat celcius hingga minus 5 derajat celcius di bawah 0.

Menurut Lonnie, gletser yang ada di pegunungan Papua merupakan yang paling rendah dibanding dengan gletser di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia.

“Kami sudah mengambil semua sampel es dari berbagai gunung di dunia, di mana yang tertinggi di pegunungan Himalaya (perbatasan Tibet dan Cina) dengan ketinggian sekitar 7.200 meter di atas permukaan laut. Sedangkan yang ada di Papua berada pada ketinggian di bawah 5.000 meter di atas permukaan laut,” jelasnya.

Lonnie Thompson mengatakan, kegiatan penelitian gletser di Papua tidak lepas dari dukungan PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas, tembaga dan perak yang beroperasi di Mimika, Papua.

“Tanpa bantuan Freeport, tidak mungkin kami mengambil es dari gletser untuk dibawa secara cepat dengan helikopter lalu dimasukkan dalam freezer untuk dikirim ke pusat penelitian di Amerika Serikat. Karyawan Freeport juga banyak memberikan bantuan untuk memindah-mindahkan peralatan penelitian selama berada di kawasan gletser Papua,” katanya menjelaskan.

sumber : http://www.antaranews.com